Monday, 5 October 2015

Catatan Penting Hidroponik 88 : SANITASI PADA BUDIDAYA HIDROPONIK.

Oleh : Yos Sutiyoso

Mengendalikan sanitasi pada kegiatan budidaya hidroponik harus dilakukan secara ketat, karena produk yang dihasilkan dikonsumsi oleh orang banyak. Proses sanitasi harus menjadi pedoman bertindak sepanjang hari.
Budidaya hidroponik tidak menggunakan bahan biologis dalam meramu nutrisi, dan dengan demikian dapat menghindari adanya pemunculan gangguan, seperti Tetanus, Salmonella, E. coli, dsbnya. Terutama yang disebut terbelakang, telah menyebabkan puluhan kematian di Spanyol, Polandia, dan Rusia.
Komponen pupuk dalam budidaya hidroponik terdiri atas garam-garam anorganis, dimuati dalam karung atau zak, dan terdapat dalam bentuk tepung atau kristal. Jasad hidup atau mikro-organisma tidak mungkin hidup pada kristal garam tersebut, dan karenanya pupuk hidroponik bebas dari kemungkinan mengandung organisma pathogen manusia.
Bukan rahasia bahwa sayuran yang dihasilkan secara hidroponik di dalam greenhouse, tidak pernah dicuci dengan air, sebelum ditimbang dan dipak dalam katung plastik, karena tidak pernah terkotori oleh debu sekalipun.
Yang juga sangat mencengangkan ialah bahwa ketika dianalisa di laboratorium mengenai unsur-unsur yang terkandung di dalamnya, terbukti sayuran hidroponik tidak mengandung unsur-unsur logam berat yang tidak disukai, antara lain cadmium Cd, hydrargyrium Hg, dan arsenicum As. Unsur-unsur tersebut dapat mengganggu kesehatan manusia. Sebabnya ialah pupuk anorganis yang digunakan, tingkat kemurnian/purity-nya tinggi, dan tidak mengandung unsur-unsur logam berat tersebut.
Dalam pengertian sanitasi dimasukkan pula pengertian gangguan oleh gulma. Didalam bahan pupuk anorganis untuk budidaya hidroponik, tidak ada terkandung benih gulma di dalamnya, sehingga kegiatan pemberantasan gulma tidak perlu dilakukan, kecuali sedikit di luar greenhouse.
Bangunan, instalasi, peralatan, yang digunakan pada proses produksi hidroponik, pada umumnya mudah pemeliharaannya, sehingga tingkat sanitasinya pun tinggi. Itu sebabnya pada kegiatan budidaya hidroponik di dalam greenhouse, jarang terjadi serangan masal oleh penyakit cendawan atau bakteri.
Yang masih menimbulkan kepusingan ialah serangan hama yang bersayap, dan bisa aktif menyebar diri, semisal thrips. Atau karena kecil dan ringan, larvanya bisa diterbangkan angin, semisal tungau atau kutu persik.
Secara teoretis bibit penyakit dan hama bisa saja ditularkan melalui pakaian pekerja, tetapi biasanya hal itu terlalu mengada-ngada. Yang lebih mencelakakan malahan keteledoran menutup pintu, setelah keluar-masuk greenhouse, sehingga angin yang meniup bebas dapat menyebar bibit penyakit ke dalam greenhouse.

No comments:

Post a comment